Upaya konservasi Kunang-Kunang Lewat Pertanian Regeneratif Berbasis Komunitas
- Admin
- /
- 2026-08-15 04:30:59
- /
- Views: 25
Upaya konservasi kunang-kunang dilakukan melalui pertanian regeneratif berbasis komunitas untuk menjaga habitat, keanekaragaman hayati, dan ekosistem berkelanjutan.
DENPASAR– Keberadaan kunang-kunang (Lampyridae) sebagai indikator alami kesehatan lingkungan di kawasan wisata ekologis Desa Taro, Tegallalang, Gianyar, Bali, kini terus menghadapi ancaman akibat alih fungsi lahan dan penggunaan input kimia pada pertanian konvensional. Merespons kondisi tersebut, langkah konservasi terpadu mulai dijalankan melalui penguatan ekosistem pertanian regeneratif berbasis pengetahuan lokal dan komunitas.
Inisiatif penguatan ekosistem ini dikemas dalam program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Warmadewa. Rangkaian pendampingan serta sosialisasi telah dilaksanakan bersama Kelompok Petani Organik Tegal Dukuh, Desa Taro
Ketua Tim Pengabdi sekaligus Akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Dr. Desak Ketut Tristiana Sukmadewi, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa populasi kunang-kunang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas habitat, terutama akibat pencemaran residu pestisida sintetis dan pupuk kimia berlebih.
"Kunang-kunang adalah bioindikator alami. Ketika ekosistem tanah dan air tercemar pestisida, populasi mereka akan merosot tajam. Melalui pendekatan pertanian regeneratif, kita tidak hanya fokus memulihkan kesuburan tanah dan efisiensi biaya produksi, tetapi juga sekaligus membangun kawasan penyangga (buffer zone) yang aman bagi habitat kunang-kunang," ujar Desak Ketut Tristiana Sukmadewi saat dikonfirmasi di Denpasar, Kamis (13/8/2026).
Dalam pelaksanaan program, akademisi Universitas Warmadewa menghadirkan model intervensi IPTEKS terintegrasi. Langkah awal dimulai dari penyusunan baseline data biofisik tanah melalui uji laboratorium, yang mencakup pengukuran pH, kandungan bahan organik (C-organik), unsur hara NPK, Kapasitas Tukar Kation (KTK), hingga analisis residu pestisida dan keanekaragaman hayati mikrob tanah.
Data dasar tersebut menjadi pijakan utama dalam menerapkan sistem Soil Health Index guna memantau kesehatan lahan secara berkala. Selain itu, pendampingan lapangan dilakukan melalui pembuatan plot percontohan (demonstration plot atau demplot) seluas 1.000 meter persegi sebagai laboratorium hidup bagi para petani.
Di demplot tersebut, petani dilatih menerapkan teknik budidaya ramah lingkungan, pengurangan input kimia dan strategi pengendalian hama hayati.
"Kami tidak hanya mengajak petani beralih ke praktik ramah lingkungan secara intuitif, tetapi membuktikannya lewat kalkulasi data ilmiah dan analisis biaya usaha tani. Dengan begitu, petani dapat melihat langsung bahwa efisiensi biaya produksi dan pemulihan lingkungan bisa berjalan beriringan," tambah Desak Ketut.
Melalui sinergi antara kepakaran akademisi, komitmen komunitas petani lokal, dan dukungan pendanaan riset terapan kampus, Desa Taro diharapkan menjadi model praksis konservasi berbasis masyarakat yang tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat daya tarik ekowisata Bali di masa depan.
Berita terkait
Petani Desa Pengejaran Olah Kopi Sangrai Mandiri, Tingkatkan Nilai Tambah
2026-08-21 03:11:48Petani Desa Pengejaran mulai mengolah kopi sangrai dan bubuk secara mandiri dengan teknologi roasting untuk meningkatkan nilai tambah dan kemandirian ekonomi..
Prodi Agroteknologi Unwar Diminta Bantu Pengembangan Budidaya Rosella di Ban.
2024-07-06 21:54:40.



