Inovasi Dekomposer Alami Mewujudkan Kemandirian Pengolahan Sampah Pemukiman di Denpasar

  • Admin
  • /
  • 2026-11-02 13:24:41
  • /
  • Views: 29

kademisi Universitas Warmadewa melatih Karang Taruna Penatih mengolah sampah organik dengan dekomposer alami menjadi kompos dalam 30–35 hari.

Tumpukan sampah organik perkotaan di berbagai wilayah kini telah menjelma menjadi ancaman ekologis serius yang memicu emisi gas rumah kaca, pencemaran air lindi, hingga sarang vektor penyakit. Tanpa tata kelola yang sistematis dari sumbernya, volume sampah domestik ini dipastikan akan terus merusak lingkungan dan melampaui kapasitas daya tampung tempat pemrosesan akhir. Oleh karena itu, pergeseran paradigma penanganan sampah menuju sistem yang mandiri, murah, dan cepat menjadi sebuah keniscayaan mutlak bagi keberlanjutan wilayah.

Menjawab urgensi tersebut, inovasi teknologi tepat guna hadir sebagai solusi nyata melalui pelatihan pengomposan aerobik yang diinisiasi oleh akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi, Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., di TPS 3R Nirmala Saba, Kelurahan Penatih, Denpasar, pada Senin (2/11/2026) Sore. Kegiatan teknis ini secara khusus melibatkan kelompok pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Kelurahan Penatih untuk menggerakkan partisipasi generasi muda dalam aksi lingkungan. Langkah aplikatif ini sekaligus merealisasikan misi tridarma perguruan tinggi untuk merangkul pemuda lokal dalam mentransfer pengetahuan ilmiah di garis depan penyelesaian krisis lingkungan. 

Muliarta menegaskan bahwa kemandirian pengelolaan sampah tidak boleh bergantung pada pasokan aktivator komersial berbiaya mahal yang justru membebani operasional fasilitas lokal. Pendekatan berbasis sains ini justru mengoptimalkan potensi mikroorganisme lokal yang memiliki ketahanan fisiologis jauh lebih unggul terhadap dinamika lingkungan. 

"Penggunaan dekomposer lokal atau mikroorganisme alami menawarkan keunggulan berupa daya adaptasi fisiologis yang luar biasa terhadap fluktuasi iklim serta efisiensi biaya bagi masyarakat," ujar Muliarta di TPS 3R Nirmala Saba, Kelurahan Penatih. 

Penerapan pengomposan berbasis dekomposer alami ini mendapat apresiasi langsung dari pengelola di lapangan. Ketua Kelompok Masyarakat Pengelola TPS 3R Nirmala Saba Desa Adat Penatih Puri, I Made Dwiyita Wrhaspati, menilai bahwa metode yang ditransfer oleh akademisi memberikan dorongan teknis yang sangat praktis bagi operasional pengolahan sampah harian di wilayahnya.

"Dari proses pelatihan yang diberikan, proses pengomposan ini terasa lebih mudah. Tentu kami berharap sampah organik ini bisa lebih cepat jadi kompos," kata I Made Dwiyita Wrhaspati.

Dwiyita menyambut positif pelibatan kelompok pemuda Karang Taruna dalam pelatihan teknis ini. Menurutnya, regenerasi pengelola dan keterlibatan aktif generasi muda menjadi kunci penting mengingat laju produksi sampah pemukiman akan terus membengkak seiring pesatnya pembangunan hunian baru di kawasan Penatih.

"Keterlibatan pemuda harapannya ke depan membuat pengelolaan sampah organik menjadi lebih baik. Apalagi tentu jumlah sampah akan terus meningkat seiring dengan adanya pemukiman baru, yang kami harapkan masyarakat bisa melakukan pemilahan sehingga kami bisa lebih mudah dalam pengelolaan," tuturnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kesadaran warga dari tingkat rumah tangga agar alur pemilahan dari sumber dapat mempermudah kerja pengolah di TPS 3R. Pihaknya mengapresiasi kontribusi perguruan tinggi yang tidak hanya memberikan bimbingan teknis, tetapi juga membawa pendekatan inovatif yang berpotensi membuka nilai ekonomi bagi desa.

"Kami mengucapkan terima kasih atas peran kampus dalam memberikan pengetahuan yang inovatif. Harapannya ke depan pengelolaan bisa lebih efisien serta memberikan dampak ekonomi dan berkelanjutan," ujar Dwiyita.

Ia pun berharap pendampingan ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan terbangun menjadi skema kemitraan yang panjang. Bagi pengelola lapangan, dukungan lintas sektor dari akademisi, pemerintah, hingga komunitas warga sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlanjutan fasilitas pengolahan sampah berbasis sumber.

"Mudah-mudahan proses ini dapat berkelanjutan dari pelatihan dan pendampingan yang diberikan, karena kami sangat membutuhkan dukungan semua pihak," pungkasnya.

Secara teknis, metode Tambahan Dekomposer Alami (TDA) insitu diterapkan menggunakan wadah kotak bambu di atas gundukan tanah guna menghindari genangan air hujan serta menjaga sirkulasi udara tetap optimal. Sampah organik disusun secara berlapis (layer) berselang-seling dengan dekomposer alami berupa kotoran ternak atau tanah humus dan kompos matang . Melalui manajemen aerasi dan kelembaban yang presisi, proses dekomposisi aerobik ini mampu menuntaskan penguraian secara sempurna dalam rentang waktu 30 hingga 35 hari. 

Keluaran dari metode ini menghasilkan pupuk kompos berkualitas tinggi yang ditandai dengan tekstur remah, berwarna hitam kelam, serta beraroma tanah matang yang higienis. Dengan mereduksi volume sampah secara tuntas langsung dari sumbernya, beban pembuangan sampah ke TPA dapat ditekan secara drastis sekaligus memutus rantai pencemaran lingkungan. Transformasi ini membuktikan bahwa kemandirian wilayah dalam mengelola sampah perkotaan dapat dicapai secara berkelanjutan melalui kolaborasi aktif masyarakat dan pemuda. 

Seluruh rangkaian inovasi ini merupakan bagian integral dari Program Aksara Mahasiswa Berdampak yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Sinergi strategis antara institusi pendidikan tinggi, mahasiswa, pengelola TPS 3R, dan Karang Taruna ini tidak hanya sukses menuntaskan persoalan sampah perkotaan, tetapi juga memperkokoh fondasi ekonomi sirkular serta penerapan pertanian berkelanjutan berbasis Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA).


Berita terkait

Baca Berita

Dekomposer Alami Jadi Solusi Pengolahan Sampah Organik di Penatih Denpasar

2026-11-02 13:24:41

kademisi Universitas Warmadewa melatih Karang Taruna Penatih mengolah sampah organik dengan dekomposer alami menjadi kompos dalam 30–35 hari..