APA KABAR "ONE DAY NO RICE"?

  • Admin
  • /
  • 2026-09-24 02:12:41
  • /
  • Views: 27

APA KABAR

Gerakan One Day No Rice mendorong diversifikasi pangan dan konsumsi pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras.

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

     Sekedar melawan lupa, di Jawa Barat pernah ada pejuang pangan yang menggagas soal "one day no rice". Pertama adalah Gubernur Jawa Barat DR. Achmad Heriyawan dan satunya lagi Walikota Depok DR. Nurmahmudi Ismail. Keduanya dikenal masyarakat, sebagai sosok pemimpin yang  sangat serius mengkampanyekan program diversifikasi pangan.

     Dalam semangat diversifikasi pangan, "One Day No Rice" artinya "Satu Hari Tanpa Nasi", sebuah gerakan kampanye untuk mengurangi ketergantungan konsumsi beras dengan cara beralih ke sumber karbohidrat alternatif selama satu hari dalam seminggu. Gerakan ini bukan bertujuan untuk kelaparan atau memotong asupan kalori, melainkan mengajak masyarakat untuk memvariasikan makanan pokok mereka demi ketahanan pangan dan kesehatan.

     Hubungan dengan diversifikasi pangan antara lain mengurangi ketergantungan pada beras. Indonesia memiliki tingkat konsumsi beras yang sangat tinggi. Gerakan ini melatih masyarakat untuk tidak bergantung hanya pada satu jenis pangan pokok. Kemudian, mengenalkan sumber karbohidrat lokal. Kampanye ini mendorong pemanfaatan pangan lokal non-beras yang melimpah di Indonesia, seperti singkong, ubi jalar, jagung, talas, sagu, dan kentang. 

     Lalu, meningkatkan ketahanan pangan nasional. Jika ketergantungan pada beras menurun, beban pemerintah untuk mengimpor atau memproduksi beras dalam jumlah makro akan berkurang, sehingga ketahanan pangan nasional menjadi lebih stabil. Juga, manfaat kesehatan. Dari sisi kesehatan, diversifikasi pangan memberikan variasi nutrisi. Sumber karbohidrat lain seperti ubi jalar atau jagung memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dan kaya akan serat, yang baik untuk mencegah risiko diabetes dan obesitas.

     Secara mendalam, nilai filosofi dari ungkapan "One Day No Rice" adalah kesadaran akan keberagaman (pluralisme) pangan dan harmonisasi manusia dengan potensi alam sekitarnya. Gerakan ini bukan sekadar urusan mengubah menu sarapan, melainkan sebuah reorientasi cara pandang kita terhadap bumi dan kehidupan.

     Di bawah ini akan dijelaskan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam ungkapan tersebut:

1. Filosofi keberagaman dan dekolonisasi lidah (Pluralisme).

Nasi sering kali dianggap sebagai "raja" makanan pokok yang superior di Indonesia, bahkan muncul pameo "kalau belum makan nasi, belum kenyang". Filosofi One Day No Rice menggugat hegemoni ini. Maknanya, gerakan ini mengajarkan bahwa tidak ada satu sumber pangan yang lebih mulia dari yang lain. Singkong, jagung, sagu, dan talas memiliki derajat yang sama pentingnya. Ini adalah bentuk perayaan atas keberagaman hayati yang dianugerahkan pada bumi nusantara.

2. Harmonisasi dan koneksi dengan alam lokal (Lokalisme). Setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik tanah dan iklim yang berbeda, yang secara alami menghasilkan pangan yang berbeda pula (misalnya sagu di Papua, jagung di NTT). Emisi karbon dari distribusi beras yang dipaksakan ke seluruh penjuru negeri justru merusak lingkungan. Maknanya, mengurangi nasi selama satu hari memaksa kita menoleh kembali ke tanah tempat kita berpijak. Ini melatih manusia untuk hidup harmonis dan bersyukur atas apa yang disediakan oleh alam terdekatnya (eating locally).

3. Nilai resiliensi dan adaptasi (Ketahanan Jiwa). Ketergantungan mutlak pada satu hal membuat manusia rentan dan rapuh. Jika terjadi krisis beras (akibat gagal panen atau perang), masyarakat yang tidak bisa makan selain nasi akan mengalami kepanikan moral dan kelaparan psikologis Maknanya, One Day No Rice adalah latihan filosofis untuk membangun mental yang adaptif dan tangguh (resilien). Kita diingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang fleksibel dan mampu bertahan hidup dengan berbagai cara.

4. Kendali diri dan kesadaran (Mindfulness). Makan nasi sering kali menjadi rutinitas otomatis yang dilakukan tanpa berpikir panjang (habits). Maknanya adalah memilih untuk tidak makan nasi selama satu hari menuntut kesadaran penuh (mindfulness) dalam memilih makanan. Ini adalah bentuk latihan pengendalian diri (asketisme kecil) untuk tidak diperbudak oleh kebiasaan, sekaligus bentuk solidaritas demi keberlangsungan pangan generasi masa depan.

     Kondisi diversifikasi pangan di Indonesia saat ini berada pada fase paradok, produksi pangan nasional sedang menguat, namun ketergantungan publik pada beras dan komoditas impor tertentu masih sangat tinggi. Pemerintah terus berupaya memperkuat diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal melalui Badan Pangan Nasional dan revisi regulasi hukum, tetapi perubahan budaya konsumsi masyarakat di lapangan masih berjalan lambat. 

     Secara umum, potret kondisi diversifikasi pangan nasional dapat dipetakan ke dalam beberapa poin penting:

Yang utama, Ketergantungan Beras yang Masih Sangat Dominan.

Meskipun produksi beras nasional mencatat capaian positif pasca-swasembada tahun 2025 dengan total produksi mencapai 34,69 juta ton, ketergantungan masyarakat pada nasi masih sangat ekstrem. Data menunjukkan bahwa lebih dari 98% rumah tangga di Indonesia tetap mengandalkan beras sebagai sumber karbohidrat harian. Pola pikir "belum makan nasi artinya belum makan" masih mendominasi budaya kuliner masyarakat luas. 

     Selanjutnya, Tren Peningkatan Impor Pangan Lain (Gandum & Kedelai). Paradoks diversifikasi terjadi ketika konsumsi pangan selain beras meningkat, namun alternatif yang dipilih bukan pangan lokal, melainkan gandum dan kedelai impor. Tingginya konsumsi mi instan, roti, dan makanan olahan berbasis tepung terigu membuat ketergantungan luar negeri beralih ke komoditas gandum yang tidak tumbuh di Indonesia. Selain itu, pasokan kedelai, gula pasir, dan bawang putih nasional juga masih didominasi impor. 

     Kemudian, Masifnya Kampanye Pengolahan Pangan Lokal. Pemerintah bersama institusi seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) gencar melakukan hilirisasi teknologi pangan. Fokus utamanya adalah memodernisasi pangan lokal (seperti singkong, sagu, jagung, sorgum, dan talas) agar tidak dianggap sebagai "makanan kelas bawah". Bahan-bahan ini kini banyak diolah menjadi tepung termodifikasi (seperti MOCAF) untuk mensubstitusi terigu, serta beras analog (beras tiruan dari umbi-umbian). 

     Lalu, Tantangan Alih Fungsi Lahan dan Iklim. Upaya mendiversifikasi sistem pertanian di daerah kerap terbentur oleh berkurangnya lahan produktif akibat industrialisasi dan pemukiman. Fluktuasi iklim (seperti ancaman siklus El Nino dan La Nina) juga membayangi stabilitas stabilitas pasokan pangan, yang menuntut penanaman varietas tanaman non-beras yang lebih tahan kekeringan. 

     Saat ini, nasib kampanye "One Day No Rice" secara nasional dinilai meredup dan berjalan statis, namun semangat gerakannya telah berevolusi menjadi slogan baru yang diusung oleh Badan Pangan Nasional (BAPANAS), yaitu "Kenyang Gak Harus Nasi". 

Meskipun secara nama formal "One Day No Rice" jarang terdengar lagi di level pusat dibandingkan masa kejayaannya saat diinisiasi di Depok tahun 2012 lalu, kondisi riil keberlanjutannya saat ini dapat dilihat dari beberapa aspek berikut: 

     Pertama, Evolusi menjadi Gerakan "Kenyang Gak Harus Nasi". Pemerintah melalui BAPANAS kini lebih gencar mengampanyekan jargon baru tersebut untuk menyasar generasi muda. Fokusnya bukan lagi sekadar "melarang nasi dalam sehari" secara kaku, melainkan mengedukasi masyarakat bahwa karbohidrat lokal seperti jagung, sagu, ubi jalar, hingga sorgum memiliki nilai gizi dan rasa yang tidak kalah enak dari nasi. 

     Kedua, Bertahan secara sporadis di tingkat daerah. Beberapa pemerintah daerah masih mengadopsi dan menghidupkan kembali penamaan "One Day No Rice" disesuaikan dengan kearifan lokal. Sebagai contoh, Pemerintah Provinsi Papua kembali memopulerkan gerakan ini guna mendorong penguatan ekonomi berbasis pangan lokal seperti sagu dan keladi di tengah masyarakat maupun agenda-agenda kedinasan. 

     Ketiga, Masalah utama masih sebatas seremonial. Kritik terbesar terhadap nasib gerakan ini sekarang adalah dampaknya yang belum signifikan terhadap konsumsi beras nasional. Kampanye ini dinilai sering kali terjebak dalam acara seremonial atau sebatas diterapkan di lingkungan kantor pemerintahan, namun gagal meresap menjadi gaya hidup (lifestyle) masyarakat luas secara masif. 

     Keempat, Tantangan Ekosistem Hilir (Aksesibilitas). Banyak masyarakat yang sebenarnya tertarik mencoba sehari tanpa nasi, namun kesulitan menemukan bahan alternatif di pasar modern dengan harga yang terjangkau. Selama ekosistem distribusi pangan lokal non-beras belum semudah dan semurah beras, masyarakat akan terus kembali mengonsumsi nasi atau beralih ke mi instan berbasis gandum impor.


Berita terkait

Baca Berita

Suara Petani dan Hari Tani 2026: Menagih Keadilan Agraria

2026-09-24 01:45:32

Hari Tani Nasional 2026 menjadi momentum menyuarakan kedaulatan petani, reforma agraria, kesejahteraan, regenerasi petani, dan ketahanan pangan..

Baca Berita

BERAS BANSOS LEBARAN

2023-04-14 23:34:45

.